Tuesday, February 11, 2003

Belanja di Kota

Tanggal 2 Februari 2003 lalu, Vie, Dewi, Rini, Choy dan Ian pergi jalan-jalan ke Kota. Rencananya hari ini adalah berbelanja alat tulis yang akan disumbangkan ke sekolah anak jalanan di kolong Jembatan Tol Gedong Panjang. Sekolah Anak Jalanan yang beberapa waktu lalu pernah kami kunjungi.

Rencana awal sebelum berbelanja, kami akan mengunjungi Museum Sejarah Jakarta, mewujudkan mimpi salah seorang teman yang belum pernah sekalipun mengunjungi museum tersebut, namun rencana berubah karena yang bersangkutan tidak bisa ikut serta, sayang!

Setelah semua berkumpul di Restoran A&W Stasiun Kota,“Kita ke pasar pagi aja, disana jauh lebih murah loh” kata Ian menyarankan. Akhirnya pergilah kami ke pasar tersebut. Sebuah pasar tradisional yang didirikan pada tahun 60-an oleh pemerintah, tapi mungkin pasar tersebut telah ada sejak jaman Belanda jika dilihat dari beberapa bangunan tua dengan arsitektur Cina atau Belanda.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, namun pasar terlihat sepi, mungkin karena sebagian besar pemilik toko masih merayakan Imlek. Buku tulis, buku gambar, pensil, krayon, kertas origami dan lain-lain akhirnya kami dapatkan di pasar itu, murah dengan kualitas lumayan bagus. Setelah mendapatkan semua alat tulis, kami sempat window shopping di pasar pagi ini, kacamata sunglassesyang tertata rapi di kaki lima menarik perhatian, harganya cuma Rp. 4.000,- memang tidak sekelas Rayban, Elle, Gucci atau merek terkenal lainnya, namun untuk melindungi mata dari silau matahari Jakarta, lumayanlah. Dan karena yang menggunakan kacamata tersebut cantik serta tampan seperti kami, kacamata-kacamata tersebut terlihat mahal ketika digunakan. Percaya kan?

Dari Pasar Pagi Mangga Dua tujuan kami berikutnya adalah Jurrasic Park, begitulah Ian menyebutkan tempat ia dulu berkumpul dengan teman-teman kuliahnya waktu istirahat atau mungkin ketika dia bolos kuliah, siapa yang tahu? Jurassic Park, sebuah tempat yang terletak dibelakang gedung BNI, disini terdapat banyak barang-barang tembikar mulai dari kendi berbagai jenis, tempat membakar kemenyan, celengan dan lainnya. Kami pikir disini juga ada pabriknya, namun ternyata semua barang-barang tembikar ini diperoleh dari daerah Klaten, Jawa Tengah dan dari sinilah kemudian tembikar-tembikar ini dikirim lagi ke seluruh pasar di Jakarta.

Ada sebuah kendi yang kami pesan, “KendiMaling”, pernah dengar? Sebuah kendi yang bisa diisi air, namun tidak semua orang bisa mengeluarkan airnya, percaya ga percaya, memang ada kendi yang seperti itu, jika nanti Vie mendapatkannya tentu akan Vie ceritakan, tunggu aja!

Perjalanan belum selesai, setelah makan siang di sebuah warung tenda depan stasiun kota, perjalanan dilanjutkan ke Dusit Mangga Dua, menemani Dewi membeli batere untuk siemennya yang sering drop walau telah di charge semaleman, tidak lama karena memang tidak sulit mencarinya. Di sana kami juga ber-window shopping, suasananya Mal banget dan terlihat meriah dengan banyaknya ornamen-ornamen berwarna merah dan emas serta spanduk-spanduk lebar dimana-mana bertuliskan “GONG XI FA CAI”.“GONG XI FA CAI”, Vie pikir ini dulu satu-satunya ucapan selamat Tahun Baru Imlek, dan ternyata hal tersebut tidak benar.

Menurut David Kwa, seorang sejarahwan yang menguasai sekali tentang budaya etnis Tionghoa ini, istilah GongXi Fa Cai, lebih banyak digunakan oleh kalangan usahawan di Hong Kong, yang artinya selamat menjadi kaya. Bangsa Indonesia yang memang baru sejak tahun 2000 boleh merayakan hari raya Imlek kembali sepertinya telah menelan mentah-mentah istilah ini. “Apa yang terjadi kalau kaya tapi tidak bahagia, kalau kaya tapi tidak sehat, ucapan tersebut tidak tepat” ujar pak David Kwa lebih lanjut. Ada beberapa ucapan untuk mengucapkan selamat hari raya imlek seperti, "Wan shi ru yi", artinya semoga kau dapatkan apapun yang kau harapkan tahun ini, "Shen tijian kang", artinya semoga sehat selalu, "Xin xiang shicheng", artinya semoga apa yang ada di hati menjadi kenyataan dan masih banyak lagi ucapan lainnya.

Dari Dusit Mangga Dua kami putuskan belanja hari ini sudah selesai, ada banyak pengalaman dan cerita menarik yang kami dapatkan hari ini. Jalan-jalan ke kota, di hari Minggu walau tidak dengan ayah dan naik delman, tapi dengan sahabat-sahabat baik dan jalan kaki atau naik angkot, semua sangat berkesan di hati. (eVIe)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home